SEJARAH PENGHIMPUNAN DAN PEMBINAAN HADIS

ULUMUL HADIS

    SEJARAH PENGHIMPUNAN DAN PEMBINAAN HADIS

Dosen pengampu : Drs. Bahudji, M.Ag.

Disusun oleh :

Ela Nur Aini                          :14114131


Jurusan Tarbiyah/Pai/A/2

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN)

Jurai Siwo Metro

2015

 

 

 

 

ABSTRAK

 

History of islam, islam is a religion in the world, source of law islam is Al Quran and hadis. The Al Quran is world from Allah to Muhammad and humans for way of life humans in reach to happiness in the world and in the hereafter.

Al Hadis is traditional collection of stories relating words or deeds of Muhammad or the chief source of guidance for understanding religion questions.

History of hadis, from collecting hadis and writing hadis, give the time which long, the first from Muhammad to after tabi’it tabi’in.

Function of hadis is to clarifier, to detail which mujmal special which general, to confirm and to add from clarifier Al Quran. The hadis give law individual which not are in Al Quran.

History collecting and writing hadis are five part, first history collecting and writing hadis at the moment Muhammad, second history collecting and writing hadis at the moment sahabat, third history collecting and writing hadis at the moment tabi’in, fourth history collecting and writing hadis at the moment tabi’it tabi’in, and the last is history collecting and writing hadis at the moment after tabi’in tabi’it.

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Assalamu’alaikum wr.wb.

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kehidupan kepada makhluk ciptaan-Nya, yang telah melebihkan manusia dibandingkan dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad saw.

Sebagai sosok yang sangat kita muliakan karena akhlaknya dan kepribadiannya yang dapat kita pelajari dari berbagai hadis yang telah diriwayatkan oleh banyak sahabat.

Dalam makalah ini menjelaskan sedikit “Sejarah Penghimpunan dan Pembinaan Hadis” dari periode Nabi Muhammad sampai periode setelah tabi’it tabi’in serta perkembangan, karakter penulisa dan model buku yang digunakan dari periode Nabi Muhammad hingga periode setelah tabi’it tabi’in.

Dikarenakan tidak memungkinkannya penjabaran secara menyeluruh, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca untuk perbaikan dimasa yang akan datang.

Metro, 20 maret 2015

Penulis

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Sejarah periodisasi penghimpunan hadis mengalami masa yang lebih panjang dibandingkan dengan yang dialami oleh Al Quran, yang hanya memerlukan waktu relative lebih pendek, yaitu sekitar 15 tahun saja.

Yang dimaksud dengan periodisasi penghimpunan hadis disini adalah : “fase-fase yang telah ditempuh dan dialami dalam sejarah pembinaan dan perkembangan hadis, sejak Rasulullah SAW masih hidup sampai terwujudnya kitab-kitab yang dapat disaksikan dewasa ini.”

Para ulama dan ahli hadis, secara bervariasi membagi periodisasi penghimpunan dan pengkondifikasian hadis tersebut berdasarkan perbedaan pengelompokan data sejarah yang mereka miliki serta tjuan yang hendak mereka capai.

Muhammad Mustafa Azami, yang secara garis besar hanya berkonsentrasi pada pengumpulan dan penulisan hadis pada abad pertama dan kedua hijriah, yang dinamainya dengan pre-clasical “hadith” literature masa sebelum puncak kematangan pengkondifikasian hadis, membagi periodesasi hadis menjadi empat fase.

  1. Rumusan Masalah
  2. Bagaimana periodesasi penghimpunan hadis pada masa Rasulullah?
  3. Bagaimana periodesasi penghimpunan hadis pada masa sahabat?
  4. Bagaimana periodesasi penghimpunan hadis pada masa tabi’in?
  5. Bagaimana periodesasi penghimpunan hadis pada masa tabi’it tabi’in?
  6. Bagaimana periodesasi penghimpunan hadis pada masa setelah tabi’it tabi’in?
  7. Tujuan
  8. Untuk menyanggupi tugas matakuliah ulumul hadis, mengenai periodesasi penghimpunan hadis.
  9. Untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan mengenai periodesasi penghimpunan hadis.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Periodesasi Penghimpunan dan Pengkodifikasian Hadis pada Masa Rasulullah (13SH-11H).

Perjalanan hadist di masa Rasulullah tidak dapat di pisahkan dengan hadist masa sahabat. Zaman Rasulullah juga memiliki peran dapat proses periwayatan. Hadist pada zaman Rasulullah di terima dan di riwayatkan oleh sahabat dengan cara oral (syafahiyyan). Saat itu tidak di kenal periwayatan dengan tulisan. Sahabat yang mendengar hadist dari Rasulullah langsung meriwayatkannya dengan lisan tanpa menunggu tulisan. Dengan cara inilah hadist banyak di hafal oleh para sahabat. [1]Menurut Musthafa As-siba’i Hadist tidak di tulis seperti Al-Qur’an alasannya :

  1. Al-Quran masih turun dengan kondisi penulisannya sangat sederhana dan belum di bukukan
  2. Sahabat yang mampu tulis menulis amat langka itupun di fungsikan untuk menulis wahyu
  3. Orang Arab memiliki ingatan yang sangat kuat, terutama untuk mengingat hadist
  4. Cara sahabat menerima hadis pada masa Rasulullah SAW.

Hadis-hadis yanh terhimpun di dalam kitab-kitab hadis yang ada sekarang adalah hasil kesungguhan para sahabat dalam menerima dan memelihara hadis di masa Nabi SAW terdahulu. Apa yang diterima oleh para sahabat dari Nabi SAW disampaikan pula oleh mereka kepada sahabat lain yang tidak hadir ketika itu, dan selanjutnya mereka menyampaikannya kepada generasi berikutnya, dan demikianlah seterusnya hingga sampai kepada para perawi terakhir yang melakukan kondifikasi hadis. Ada empat cara yang ditempuh oleh para sahabat untuk mendapatkan hadis Nabi SAW, yaitu :[2]

  • Mendatangi majelis-majelis taklim yang diadakan Rasul SAW. Rasulullah SAW selalu menyediakan waktu-waktu khusus untuk mengajarkan ajaran-ajaran islam kepada para sahabat.
  • Kadang-kadang Rasul SAW sendiri menghadapi beberapa peristiwa tertentu, kemudian beliau menjelaskan hukumnya kepada para sahabat.
  • Kadang-kadang terjadi sejumlah peristiwa pada diri para sahabat, kemudian mereka menanyakan hukumnya kepada Rasul SAW dan Rasul memberikan fatwa atau penjelasan hokum tentang peristiwa tersebut.
  • Kadang-kadang para sahabat menyaksikan Rasul melakukan sesuatu perbuatan dan sering kali yang berkaitan dengan tata cara pelaksanaan ibadah, solat, puasa, zakat, haji, dll.
  1. Penulisan hadis pada masa Rasulullah.

Pada dasarnya pada masa rasul sudah banyak umat islam yang bias membaca dan menulis. Bahkan Rasul sendiri mempunyai 40 orang penulis wahyu disamping penulis-penulis untuk urusan lainnya. Oleh karenanya, argument yang menyatakan kurangnya jumlah umat islam yang bias baca tulis adalah penyebab tidak dituliskannya hadis secara resmi pada masa Rasul, karena tidak tepat dan ternyata berdasarkan keterangan diatas bahwa setelah banyak umat islam pada saat itu yang mampu membaca dan menulis. Meskipun demikian, kenyataannya pada masa Rasul keadaan hadis, berbeda dengan Al Quran dan belum ditulis resmi.[3]

Mengapa hadis tidak atau belum di tulis secara resmi pada masa Rasul terdapat berbagai keterangan dan argumentasi yang kadang-kadang satu dengan yang lainnya saling bertentangan.

  1. Periodesasi Penghimpunan dan Pengkodifikasian Hadis pada Masa Sahabat (12 H – 98 H).

Kata sahabat (arabnya : shahabat) menurut bahasa adalah musytaq atau pecahan dari kata shuhbah yang berate orang yng menemani yang lain, tanpa ada batas waktu dan jumlah.[4]

Ibn Hajar al As Qalani mengatakan sahabat ialah orang yang pertama bertemu dengan Nabi dengan ketentuan ia beriman dan hidup bersama Beliau, baik lama atau pun sebentar, meriwayatkan hadis dari Beliau atau tidak. Demikian pula orang yang pernah melihat Nabi walaupun sebentar atau pernah bertemu degan Beliau namun tidak melihat Beliau karena buta.[5]

Muhammad Jamal al Din al Qasimi mengatakan, bahwa yang disebut sahabat ialah orang yang pernah bertemu dengan Nabi walaupun sesaat, dalam keadaan beriman kepadanya, baik meriwayatkan hadis dari Beliau maupun tidak.[6]

Enam orang sahabat yang banyak meriwayatkan hadist :

  1. Abu Hurairah : 5.374 hadist
  2. Abdullah bin Umar : 2.374 hadist
  3. Anas bin Malik : 2.286 hadist
  4. Aisyah Ummul Mukminin : 5.210 hadist
  5. Abdullah bin Abbas : 1.660 hadist
  6. Jubair bin Abdullah : 1.540 hadist

Penulisan hadist sebelum pengkodifikasian antara lain :

  1. Ash-Shahifah Ash-Shadiqiyah, tulisan Abdullah bin Amr bin A-Ash (w. 65 H) 1.000 hadist riwayat Imam Ahmad.
  2. Ash-Shahifah Jabir bin ‘Abd Allah Al-Anshari (w. 78 H).
  3. Ashahifah ash-Shahihah, catatan seorang tabi’in Hammam bin Munabbih (w. 131 H). Hadist-hadistnya banyak diriwayatkan oleh Abu Hurairah 138 buah.
  4. Periodesasi Penghimpunan dan Pengkodifikasian Hadis pada Masa Tabi’in.

Tabi’in adalah orang yang perman berjumpa dengan sahabat dan dalam keadaan beriman, serta meninggal dalam keadaan beriman juga.[7]

  1. Maka pengkodifikasian hadist (al-Jam’u Wa At-Tadwin). Pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (99101 H). Akhir abat ke-1 H.
  2. Diantara kitab-kitab yang muncul :
  3. Al-Muwaththa’ oleh Imam Malik
  4. Al-Muhannaf oleh Abdul Razzaq
  5. As-Sunnah oleh Abd bin Manshur
  6. Al-Mushannaf oleh Abu Bakar bin Syaybah
  7. Musnad Asy-Syafi’i
  8. Teknik Pembukuan Hadist
  9. Al-Mushannaf (sesuatu yang tersusun) yaitu teknik pembukuan hadist sesuai klasifikasi hukum fiqih (Marfu’, Mauquf, Maqthu’).

Misal : ‘Al-Mushannaf oleh Abd Razzaq bin Hammam Ash-Shan’ani

  1. Al-Muwaththa’ (sesuatu yang di mudahkan) dalam istilah di sebut Mushannaf, yaitu teknik pembungkusan hadist sesuai klsifikasi hukum fiqih (Marfu’, Mauquf, dan Maqthu’).

Misal : Al-Muwaththa’ oleh Imam Malik (w.179 H)

  1. Musnad (tempat sandaran) yaitu teknik pembukuan hadist didasarkan pada nama sahabat yang meriwayatkan hadist tersebut.

Misal : Musnad Asy-Syafi’i

  1. Periodesasi Penghimpunan dan Pengkodifikasian Hadis pada Masa Tabi’it Tabi’in.

Masa ini dikenal dengan masa keemasan, dimana ilmu hadis telah terbukukan sekalipun masih dalam bentuk yang terpisah-pisah. Ilmu hadis sudah terklasifikasikan secara tersendiri dan menjadi satu disiplin ilmu yang independent. Di samping kitab yang berkaitan dengan ilmu hadis, kitab-kitab Nabi juga marak ditulis.[8]

  1. Lahirnya ummahat Kutub As-Sittah (buku induk hadist enam)
  2. Al-Jami’ ash-Shahih li al-Bukhari (194-256 H)
  3. Al-Jami’ ash-Shahih li Muslim (204-261 H)
  4. Sunan an-Nasai (215-303 H)
  5. Sunan Abu Daud (202-276 H)
  6. Jami’ at-Tarmidzi (209-269 H)
  7. Sunan Ibn Majah al-Qazwini (209-276 H)
  8. Pengkondifikasian hadist bedasarkan nama periwayat dengan bentuk musnad :
  9. Musnad Abu Daud (w. 204 H)
  10. Musnad Abu Bakar (w. 219 H)
  11. Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal (w. 211 H)
  12. Musnad al-Bazzar (w. 292 H)
  13. Musnad Abi Ya’la (w. 307 H)
  14. Tiga bentuk pembukun hadist :
  15. Musnad, menghimpun hadist-hadist dari sahabat tanpa memperhatikan masalah atau topik
  16. Al-Jami’, yaitu teknik pembkuan hadist yang mengakumulasi sembilan masalah : aqaid, hukum, perbudakan, akhlak, adab makan-minum, fitnah, tafsir, tarikh, serta sejarah dan makna qaib.
  17. Sunan, teknik penghimpunan hadist seara bab fiqih
  18. Periodesasi Penghimpunan dan Pengkodifikasian Hadis pada Masa Setelah Tabi’it Tabi’in

Periode ini dimulai sejak kekhalifahan Abasyiah di Baghdad ditaklukan oleh tentara Tar-Tar (656 H-1258 M ), yang kemudian kekhalifahan Abasyiah dihidupkan kembali oleh dinasti Mamluk dari Mesir setelah mereka berhasil menghancurkan bangsa Mongol tersebut.[9]

  1. Disebut periode penghimpunan dan penertiban (al-Jami’ wa al-Tartib) 4-6 H.

Mu’jam, Shahih, al-Mustadrak Sunan, Syarah, Ikhtishar, Istikhraj, dan al-Jam’u.

  1. Penghimpunan dan pembukuan hadist secara sistematik/ tematik abad 7-8 dan berikutnya :

Al-Mawadhu’at, al-Ahkam, al-Athraf, Takhrij, Zawaid, dan Jawami/Jami’.

  1. Kitab Hadist yang di Pedomani
  2. Kitab Shahih

Al-Bukhari, Muslim, dan Al-Muwaththa’.

  1. Kitab Sunan

Sunan Abu Daud, At-Tarmidzi, an-Nasa’i, dan Sunan Ibn Majah.

  1. Kitab-kitab Musnad

Selain Musnad Ahmad yaitu : Musnad Abi Ya’la, ‘Abd ar-Razzaq, Mushannaf Abi Bakar bin Abi Syaybah, Musnad at-Thayalisi, Sunan al-Bayhaqi, kitab-kitab al-Thahawi, dan kitab at-Thabarani.

  1. Kitab-kitab Hadist lain :

Kitab, al-Asakir, ad-Dailami, Ibn an-Najjar, Abu Nu’aim.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan :

Perjalanan hadist di masa Rasulullah tidak dapat di pisahkan dengan hadist masa sahabat. Zaman Rasulullah juga memiliki peran dapat proses periwayatan. Hadist pada zaman Rasulullah di terima dan di riwayatkan oleh sahabat dengan cara oral (syafahiyyan). Saat itu tidak di kenal periwayatan dengan tulisan. Sahabat yang mendengar hadist dari Rasulullah langsung meriwayatkannya dengan lisan tanpa menunggu tulisan. Dengan cara inilah hadist banyak di hafal oleh para sahabat.

Ada empat cara yang ditempuh oleh para sahabat untuk mendapatkan hadis Nabi SAW, yaitu :

  • Mendatangi majelis-majelis taklim yang diadakan Rasul SAW. Rasulullah SAW selalu menyediakan waktu-waktu khusus untuk mengajarkan ajaran-ajaran islam kepada para sahabat.
  • Kadang-kadang Rasul SAW sendiri menghadapi beberapa peristiwa tertentu, kemudian beliau menjelaskan hukumnya kepada para sahabat.
  • Kadang-kadang terjadi sejumlah peristiwa pada diri para sahabat, kemudian mereka menanyakan hukumnya kepada Rasul SAW dan Rasul memberikan fatwa atau penjelasan hokum tentang peristiwa tersebut.
  • Kadang-kadang para sahabat menyaksikan Rasul melakukan sesuatu perbuatan dan sering kali yang berkaitan dengan tata cara pelaksanaan ibadah, solat, puasa, zakat, haji, dll.

Muhammad Jamal al Din al Qasimi mengatakan, bahwa yang disebut sahabat ialah orang yang pernah bertemu dengan Nabi walaupun sesaat, dalam keadaan beriman kepadanya, baik meriwayatkan hadis dari Beliau maupun tidak.

Enam orang sahabat yang banyak meriwayatkan hadist :

  1. Abu Hurairah : 5.374 hadist
  2. Abdullah bin Umar : 2.374 hadist
  3. Anas bin Malik : 2.286 hadist
  4. Aisyah Ummul Mukminin: 5.210 hadist
  5. Abdullah bin Abbas : 1.660 hadist
  6. Jubair bin Abdullah : 1.540 hadist

Tabi’in adalah orang yang perman berjumpa dengan sahabat dan dalam keadaan beriman, serta meninggal dalam keadaan beriman juga.

Periodesasi Penghimpunan dan Pengkodifikasian Hadis pada Masa Tabi’it Tabi’in, masa ini dikenal dengan masa keemasan, dimana ilmu hadis telah terbukukan sekalipun masih dalam bentuk yang terpisah-pisah. Ilmu hadis sudah terklasifikasikan secara tersendiri dan menjadi satu disiplin ilmu yang independent. Di samping kitab yang berkaitan dengan ilmu hadis, kitab-kitab Nabi juga marak ditulis.

Periodesasi Penghimpunan dan Pengkodifikasian Hadis pada Masa Setelah Tabi’it Tabi’in, periode ini dimulai sejak kekhalifahan Abasyiah di Baghdad ditaklukan oleh tentara Tar-Tar (656 H-1258 M), yang kemudian kekhalifahan Abasyiah dihidupkan kembali oleh dinasti Mamluk dari Mesir setelah mereka berhasil menghancurkan bangsa Mongol tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Izzan, Ahmad dan Saifudin Nur. 2011. ulumul hadis. Bandung: Tafakur.

Smeer, Zeid. B. 2008. Ulumul Hadis. Malang: UIN Malang Press.

[1] H. Zeid B. Smeer, Lc., M.A., Ulumul Hadis, (Malang: UIN Malang Press,2008), hlm.19.

[2] Drs. H. Ahmad izzan, M.Ag dan Saifudin nur, M.Ag., ulumul hadis, (bandung: tafakur, 2011), hlm. 41.

[3] Ibid, hlm. 44

[4] Ibid. hlm 52.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] Ibid. hlm 53.

[8] H. Zeid B. Smeer, Lc., M.A., Ulumul Hadis, (Malang: UIN Malang Press,2008), hlm 27

[9] Drs. H. Ahmad izzan, M.Ag dan Saifudin nur, M.Ag., ulumul hadis, (bandung: tafakur, 2011), hlm. 71.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s